Selasa, 28 Juli 2009

MUSIK JALANAN DAN PENGAMEN

Sudah bukan pemandangan aneh, saat kita naik bus kota atau berada di sebuah rumah makan, tiba-tiba nyelonong seseorang atau beberapa anak muda yang membawa peralatan musik seadanya, bernyanyi dengan suara keras, terkadang juga sering sumbang. Mereka langsung pergi atau tidak menyelesaikan lagu yang sedang dinyanyikannya, ketika ia diberi upah atau uang sekedarnya.

Mereka biasa disebut dengan pengamen, atau lebih kerennya, mereka lebih suka disebut dengan, “Penyanyi Jalanan�. Sementara musik yang mereka mainkan sering mereka sebut sebagai, “Musik Jalanan�. Sebenarnya pengertian “musik jalanan� dan “penyanyi jalanan�,tidaklah sesederhana terminologi yang mereka sebutkan seperti di atas. Sebab, musik jalanan dan penyanyi jalanan mempunyai disiplin dan pengertian yang spesifik, bahkan merupakan suatu bentuk dari sebuah warna musik yang berkembang di dunia kesenian.

Di dunia musik, bentuk “musik jalanan� ini dikenal sudah mulai berkembang sejak abad pertengahan, terutama di Eropa. Pada saat musik di Eropa berkembang lewat penyebaran Agama Kristen, saat itu banyak yang mengatakan sebagai landasan kebudayaan yang kemudian berkembang dalam kehidupan umat manusia.

Kendati bentuk musik yang dikembangkan lewat gereja itu sebenarnya adalah berdasarkan dasar-dasar pengetahuan musik Yunani. Lewat gereja, bentuk dasar itu dikembangkan selaras dengan perkembangan seni Drama, Seni Rupa dan Sastra. Bentuk musik yang dikembangkan lewat gereja itu, akhirnya dikenal sebagai Liturgi, kata yang berasal dari bahasa latin, Liturgia (Doa Dalam Bentuk Nyanyian).

Pada saat musik gereja berkembang pesat, di luar gereja berkembang suatu bentuk musik yang boleh dikatakan agak liar dan mempunyai tema yang lebih luas. Seperti cinta tidak sekedar digambarkan sebagai hubungan manusia dengan Tuhan secara frontal.

Oleh kalangan gereja, bentuk musik ini disebut sebagai musik duniawi. Dalam proses penciptaan atau terjadinya bentuk musik duniawi ini, tidak ada sangkut pautnya dengan gereja. Kendati pada awalnya antara musik gereja dan musik duniawi ini memang memiliki kesinambungan.

Musik duniawi yang berkembang saat itu, umumnya dibawakan atau dinyanyikan oleh para musafir atau pengelana. Mereka menggunakan alat musik yang sederhana dan praktis, biasanya alat musik berdawai semacam gitar. Para musikus pengembara itu berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, mengelilingi negeri, sambil bernyanyi. Mereka mendapatkan upah atau imbalan dari para penikmat musiknya. Di Perancis, musafir pemusik ini disebut troubadour, dan di Jerman disebut minnesaenger. Sampai saat ini, budaya semacam itu masih banyak dilakukan oleh kaum Gypsi, yang berada di daerah Spanyol.

Bahkan pengaruh musik mereka juga sempat terbawa ke Indonesia oleh bangsa Portugis. Musik mereka itu diserap oleh seniman musik Indonesia sebagai musik Keroncong. Keroncong asli kerap disebut sebagai keroncong moritsku atau morisko. Perkataan ini berasal dari moresca, yaitu sejenis tari pedang yang khas di antara bangsa Spanyol dan Portugis. Kerangka musik ini berkaitan juga dengan musik-musik Abad Tengah.

Fenomena itu mungkin menjadi awal kemunculan bentuk musik jalanan. Seperti di Indonesiapun, budaya ngamen semacam itu, sudah ada sejak sekitar abad ketiga belas, saat kejayaan Kediri atau Kahuripan. Saat itu sudah dikenal rombongan kesenian musik yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, dan menghibur lewat syair atau pantun yang berisi dongeng Panji. Mereka akrab disebut sebagai Dalang Kentrung. Keberadaan mereka terkadang berarti sakral bagi masyarakat yang dilewatinya, karena apa yang mereka lantunkan tidak sekedar hiburan, tetapi terkadang merupakan nasehat, isyarat bahkan ramalan masa depan dari situasi.

Namun dalam perkembangan jaman yang semakin kompleks, budaya ngamen ini juga ikut berkembang menjadi salah satu peluang untuk mencari nafkah dari sementara orang. Seperti banyaknya pengamen yang saat ini terlihat di sekeliling kita, sebernarnya juga menyimpan bermacam-macam motif. Ada yang melakukannya untuk mencari identitas, ada yang melakukan karena iseng, ada pula yang jadi pengamen karena memang harus mengejar nafkah.

Padahal dari karakter musik jalanan ini, terkadang muncul sebuah bentuk musik baru yang menarik untuk disimak. Mereka umumnya memiliki karakter diri yang kuat. Walau harus diakui banyak dari musisi jalanan ini yang memiliki keterbatasan di sisi akademik. Namun umumnya mereka memiliki keberanian dan karakter diri yang kuat.

Terkadang sebuah lagu yang mereka bawakan, secara teori akademik memang mengalami pendangkalan. Selain mereka memainkannya dengan peralatan ala kadarnya atau terbatas, tetapi optimisme yang mereka miliki membuat lagu-lagu tersebut mampu terdengar dalam bentuk yang berbeda dari aslinya. Lagu-lagu tersebut mampu muncul dalam bentuk yang mandiri dan spesifik. Mereka memang jarang menjadi epigon, Hal itu terlihat dari nama-nama besar yang asalnya juga menyerap dan membentuk karakter dirinya lewat jalanan seperti, Leo Kristi, Iwan Fals, Kuntet Mangkulangit, Kelompok Slank dan banyak lagi lainnya.

Sementara di mancanegara, tidak terhitung tokoh-tokoh musik jalanan yang karyanya menjadi legenda dan banyak dibawakan oleh artis-artis musik lainnya, salah satu diantaranya yang dianggap sebagai bapak penyanyi jalanan di Amerika, Bob Dylan, salah satu karyanya yang monumental, Blowind In the Wind, sampai saat ini sudah direkam dalam banyak versi.

Kebanyakan para pengamen atau penyanyi jalanan ini selalu tampil sebagai dirinya sendiri. Hingga tak jarang lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi versi lain yang tak kalah menarik dari komposisi versi aslinya. Contohnya lagu-lagu popular dari kelompok Koes Ploes misalnya, hampir setiap pengamen pernah membawakannya. Namun sulit mencari yang membawakan dalam bentuk yang sama. Hampir semua mempunyai versi atau gaya berbeda dalam membawakannya.

Bila keberadaan para pengamen ini bisa mendapatkan arahan secara edukasi yang tepat dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin dunia ngamen ini akan menjadi semacam lahan mentah dari pencarian bentuk-bentuk musik pop Indonesia, yang kian hari terasa semakin canggih dibidang skill atau keterampilan teori, namun semakin tipis dalam karakter, terutama bila menyentuh akar tradisi dan budaya yang semestinya menjadi ujung tombak untuk dikembangkan secara lebih luas ke dunia musik internasional sebagai aset bangsa dan negara.

Perilaku Seks Remaja: Makin Bebas!

Produsen kondom Durex, London International Group Plc., pada tahun 1999 pernah mengadakan survei perspektif remaja terhadap seks. Dalam kata pengantarnya dikatakan, remaja memegang peran penting karena remaja adalah indikator paling jernih, untuk mengetahui bagaimana dampak pendidikan seks dan kebudayaan terhadap keluarga dan orangtua masa depan di era Milenium baru.

Survei yang diberi nama 1999 Global Sex Survey, A Youth Perspective ini, mengambil 4.200 responden berusia 16-21 tahun dari 14 negara, yakni Amerika, Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Taiwan, Italia, Yunani, Meksiko, Polandia, Singapura, Republik Czech, Spanyol, dan Thailand (Kompas, 16 Oktober 1999).

Sayangnya, survei tersebut tidak menyertakan remaja Indonesia sebagai responden. Meski demikian, setidaknya bisa ‘sedikit’ diambil kesimpulan. Kenapa? Karena hasil survei tersebut menyangkut urusan seks remaja yang akhir-akhir ini makin bebas, bahkan mendekati liar. Di antara hasil survei tersebut adalah: Secara keseluruhan, 50 persen remaja mengatakan mereka melakukan seks pertama kali karena mereka dan pasangannya merasa siap. Hanya 12 persen mengatakan karena dibujuk atau dipaksa, dan 12 persen lagi mengaku melakukan seks dalam keadaan mabuk.

Meski hasil survei ini menunjukkan remaja terlihat amat bebas, tetapi masih ada yang mereka takuti. Takut sama Allah dan Rasul-Nya? Wow, kayaknya ketakutan seperti itu nggak ada dalam daftar mereka tuh! Tapi ketakutan mereka itu seputar masalah-masalah virus HIV/AIDs, Penyakit Menular Seksual (PMS), dan kehamilan. Itu saja. Bahkan hampir semua remaja (99 persen) sadar akan bahaya PMS dan HIV/ AIDs. Lebih dari 45 persen remaja putra dan putri mengaku takut pada HIV/AIDs dan PMS dibanding apa pun. Kehamilan merupakan kekhawatiran kedua setelah HIV/AIDs dan PMS bagi remaja. Sebanyak 32 remaja putri mengatakan takut hamil, dan 18 persen remaja putra takut menjadi ayah pada usia muda. Waduh, kalo gitu gaswat bener. Soalnya meski survei itu nggak menyertakan remaja di negeri ini, tapi ternyata perilakunya sama. Di sini seks bukan lagi sebagai sesuatu yang tabu dan suci lagi, tapi sudah lumrah dan liar. Mengerikan Brur!

Survei tersebut juga mengungkap tentang umur berapa remaja-remaja di negara yang disurvei itu pertama kali melakukan hubungan seks. Hasilnya? Remaja di Kanada dan Amerika menduduki peringkat paling muda dalam melakukan hubungan seks, yakni 15 tahun, diikuti Inggris umur 15,3, Jerman umur 15,6, dan Perancis pada umur 15,8 tahun. Remaja di Asia Tenggara cenderung melakukan seks lebih telat. Remaja Thailand mulai melakukan seks pada umur 16,5 tahun, dan Taiwan umur 17 tahun. Ini mungkin memperlihatkan pengaruh dari kondisi sosial dan tradisi budaya yang berbeda.

Melihat fakta seputar perilaku seks remaja yang makin bebas dan liar ini tentu saja kita semua prihatin. Kamu juga mungkin bisa geleng-geleng kepala atau mengurut dada. Namun, sikap peduli kamu bukan sekadar diwujudkan dengan geleng-geleng kepala atawa mengelus dada doang. Itu nggak cukup. Soalnya ini adalah masalah gede yang perlu—bahkan wajib—diselesaikan dengan benar dan baik. Bila tidak? Kehancuran sebuah masyarakat tinggal menunggu waktu saja, Brur!

Makin Berani

Brur, bagi kamu yang nggak biasa dengan kehidupan para remaja di kota-kota besar pasti bakalan ‘shock’. Suer, mereka ternyata beberapa langkah lebih maju dalam urusan seks. Tapi sayangnya maju dalam kerusakan. Waduh, bayangkan saja, anak SMP dan SMU—ya, seusia kamu-kamulah—mereka udah terbiasa dengan urusan seks yang—maaf—bukan sekadar pegangan tangan atau ciuman saja, tapi sudah lebih ke arah yang ‘suerrem’ banget tuh. Kamu pasti tahu dong. Ya, begitulah. Memilukan dan memprihatinkan sekali.

Non, dalam suatu investigasi yang dilakukan oleh majalah remaja pria ternama di ibukota—terhadap para remaja yang doyan kelayaban malam-malam—ternyata datanya cukup mencengangkan. Misalnya saja, ditemukan ada beberapa anak cewek yang melengkapi dirinya dengan barang bawaan yang nggak lazim, yakni bawa kondom dan alat tes kehamilan. Lho, kok anak cewek bawa-bawa kondom sih? Menurut pengakuannya kepada tim investigasi majalah tersebut, si gadis ini punya alasan: kondom adalah senjata utama yang bakal dia berikan kepada teman kencannya bila teman kencannya udah keburu nafsu tapi doi nggak bawa kondom. Jadi untuk jaga-jaga katanya. Kenapa? Soalnya takut hamil! “Kalo dia (cowoknya) nggak bawa kondom gimana, yang tekdung (hamil, Red) kan gue. So, mending gue yang sedia,” kata cewek 17 tahun itu. Waduh, kacau Rek!

Malah disebutkan pula dalam hasil investigasinya, bahwa bukan cuma cewek yang kena ‘todong’ itu saja yang suka bawa kondom dan alat tes kehamilan. Tapi menurut gadis itu, hampir semua teman-temannya melakukan hal yang sama seperti dirinya. Bahkan ada yang kemudian menjadikan barang-barang tersebut sebagai daftar belanja rutinnya. Wow, wow, wow, makin parah aje nih.

Dan, fakta yang satu ini bakal bikin kita nggak habis pikir. Kenapa? Sebab, banyak juga remaja ibukota yang making love di sembarang tempat. Tepatnya nggak peduli kapan dan di mana dia berada. Termasuk ada yang nekat ML alias berhubungan seks dalam mobil di jalan tol. Berikut pengakuan Irvan (bukan nama sebenarnya) seperti yang ditulis majalah HAI: “Entah kenapa, begitu masuk tol Ciawi tiba-tiba aja pengen. Karena nggak kuat gue pinggirin mobil dan gue ngelakuinnya di dalam,” kata cowok 17 tahun itu. Nggak heran emang. Irvan mulai ngelakuin seks bebas sejak setahun lalu. Sejak itu pula dia bisa berbuat di mana aja. Di rumah sering, di jalan pernah, dan di sekolah pun udah (HAI No. 41/XXIV) Edan memang!

Melihat gelagatnya, tentu saja teman-teman kamu yang tadi nggak jalan sendirian. Di belakang mereka masih banyak remaja yang melakukan perbuatan sejenis. Cuma nggak terdata aja. Ibarat fenomena gunung es. Kecil di permukaan, tapi besar di bawah. Wow, padahal itu baru kelakuan buruk remaja Jakarta, belum yang di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, dan kota-kota besar lainnya. Bisa dibayangkan tentunya.

Seperti yang sering dibahas banyak orang, kelakuan mereka yang menjijikkan itu memiliki risiko yang nggak kecil. Penyakit AIDs sudah siap mengintai, belum lagi ancaman PMS lainnya, dan kehamilan yang nggak dikehendaki juga bisa membengkak datanya. Dan yang pasti pelakunya bakal disentuh api neraka.

Minggu, 31 Mei 2009

Macam-Macam kenakalan remaja


enakalan remaja yang terjadi pada saat ini makin beragam bentuknya, hal ini bisa saja dipengaruhi oleh dunia luar atau yang lebih sering kita sebut pergaulan bebas. Dari kenalan siswa ini akan mengarah kepada kenakalan remaja yang melawan nilai-nilai yang berlaku yang disebabkan oleh belum adanya rasa kedewasaan. Dalam hal ini sebaiknya para siswa remaja harus bisa membedakan perbuatan yang termasuk dakam kenakalan remaja dan mengetahui dampak-dampak dari pergaulan yang kita lakukan.

Sifat-sifat kenalan siswa/remaja :

1. Tidak mempunyai pendirian

2. Frustasi

3. Emosi tidak stabil

4. Tidak dapat menguasai dorongan-sorongan nafsu

Misalnya : 1. Agresif

2. Selalu curiga

3. Cemburu

4. Selalu bertengkar

Kenakalan remaja yang terjadi tentu ada sebab-sebabnya yang dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor, diantaranya :

Lingkungan keluarga :

1. Tidak ada keterbukaan sesama anggota keluarga

2. Tidak memperoleh kasih sayang dari orang tua

3. Kondisi ekonomi keluarga

Lingkungan sekolah :

1. Guru yang bersifat kurang adil kepada muridnya

2. Suasana sekolah yang menjadikan siswa senang membolos, malas belajar, dan melawan guru.

3. Kegiatan belajar yang tidak lancar

Jika siswa/remaja telah masuk kenakalan remaja, maka mereka dapat saja melakukan sebuah penyimpanan atau yang disebut perilaku menyimpang. Dimana siswa yang berprilaku yang tidak sesuai / menyimpang dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat baik menurut nilai agama, sosial adat istiadat.

Akibat-akibat dari kenakalan siswa / remaja :

1). Merusak moral

2). Terjerumus dalam pergaulan bebas, misalnya

· Mengkonsumsi obat-obatan

· Perkelahian antar siswa

· Seks bebas

· dll

3). Membuat malu keluarga / mencemarkan nama baik orang tua

4). Merusak prestasi kita

5). Dll

Dalam kehidupan sehari-hari, kenakalan remaja tentu saja terjadi pada masa pertumbuhan para siswa saat ini. Tetapi hal itu dapat dicegah, dengan cara pergaulannya yaitu :

1). Dalam sebuah lingkungan keluarga, perlu diadakan hubungan dan komunikasi yang terbuka antar sesama anggota kaluarga.

2). Jika dikelas terjadi perilaku yang menyimpang, jangan bersikap marah terhadap siswa, tetapi hadapi dengan hati dan pikiran yang tenang dan jernih.

3). Memberikan bimbingan siswa dikelas secara keseluruhan, sehingga setiap siswa memperoleh kepuasan dan kesuksesan serta tercipta suasana kelas yang harmonis tenang dan menyenangkan.

4). Memahami segala keterbatasan yang dimiliki siswa, sehingga sebagai guru hendaknya membantu dengan memberikan pertolongan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam mengembangkan diri.

5). Memahami segala kemampuan yang berbeda-beda.

6). Menjaga pergaulan kita dengan siapa saja dengan memperhatikan norma-norma yang berlaku.

7). Harus dapat membedakan mana hal yang buruk dan mana hal yang baik untuk pergaulan kita agar tidak terjerus ke pergaulan bebas.

8). Perlunya / pentingnya peran orang tua dalam mendidik seorang anak.

9). Memberi pengalaman bagi siswa yang melakukan kegiatan-kegiatan yang positif.

10). Dll

Dalam hal ini peran orang tua sangatnya penting untuk mencegah terjadinya kenakalan siswa karena disini orang tualah yang paling dekat dengan siswa/remaja, maka dari itu perlu adanya keterbukaan, saling mengisi, dan komunikasi antara orang tua dan siswa. Disini yang dimaksud keterbukaan, saling mengisi dan komunikasi adalah :

Keterbukaan, mencakup :

1). Saling jujur antara satu sama lain anggota keluarga

2). Tidak ada rasa ketertutupan

3). Selalu bicara apa adanya sesuai isi hati

Saling mengisi, mencakup :

1). Saling melengkapi kekurangan antara anggota keluarga

2). Saling mengisi kekosongan antar hati

3). Saling membantu jika ada masalah

Komunikasi, mencakup :

1). Saling bicara antar hati

2). Saling berbagi masalah

3). Selalu komunikasi ungkapkan isi hati

Minggu, 24 Mei 2009

Tips Orangtua Jika Mengetahui Anak Menyalahgunakan Narkoba


Fenomena penyalahgunaan Narkoba menjadi pembicaraan semua pihak, khususnya
orang tua. Perang terhadap Narkoba telah dikumandangkan. Orang tua menjadi
sangat khawatir dengan pergaulan anak-anaknya. Kekhawatiran ini membuat para
orang tua atau pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan remaja &
pemuda mulai mendirikan LSM anti Narkoba & panti rehabilitasi untuk
ketergantungan Narkoba. Seminar, sarasehan, kelompok study tentang narkoba &
penanggulangannya sudah sangat banyak dilakukan, termasuk melatih & merecruit
sejumlah orang untuk menjadi tenaga penyuluhan untuk memerangi Narkoba. Di pihak
lain, pengedar tampaknya semakin menjadi-jadi, bahkan mengedarkan narkoba sampai
kepada pelajar SD.

Fenomena penyalahgunaan Narkoba menjadi pembicaraan semua pihak, khususnya
orang tua. Perang terhadap Narkoba telah dikumandangkan. Orang tua menjadi
sangat khawatir dengan pergaulan anak-anaknya. Kekhawatiran ini membuat para
orang tua atau pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan remaja &
pemuda mulai mendirikan LSM anti Narkoba & panti rehabilitasi untuk
ketergantungan Narkoba. Seminar, sarasehan, kelompok study tentang narkoba &
penanggulangannya sudah sangat banyak dilakukan, termasuk melatih & merekrut
sejumlah orang untuk menjadi tenaga penyuluhan untuk memerangi Narkoba. Di pihak
lain, pengedar tampaknya semakin menjadi-jadi, bahkan mengedarkan narkoba sampai
kepada pelajar SD.

Anak kita terperangkap penyalahgunaan Narkoba tentu saja tidak terlepas dari
masalah yang mendorongnya, seperti terpengaruh teman sebaya atau lingkungan di
mana dia bergaul atau karena tidak harmonisnya hubungan antara anak & orang tua
sehingga si anak melakukan pelarian dengan mengconsumption Narkoba.

Bagi remaja, hubungan teman sebaya meluas & menduduki peran utama pada
kehidupan mereka. Teman sebaya secara typical menggantikan peran keluarga
sebagai hal utama untuk socialiszation & activitas waktu luang. Remaja memiliki
hubungan teman sebaya yang bervariation & membuat norma & system nilai yang
berbeda. Factor resiko teman sebaya dapat digambarkan sebagai berikut :
Berhubungan dengan teman sebaya yang menggunakan obat-obatan memiliki
kecenderungan yang besar juga menggunakan obat-obatan. Tekanan negative dari
teman sebaya dapat menjadi resiko tersendiri. Contoh anak yang sebenarnya
berasal dari keluarga baik-baik, mendapat nilai baik di sekolah & tinggal di
lingkungan yang baik pula, namun akhirnya terperangkap mengconsumption narkoba
karena pengaruh temannya.

Berikut tips yang barangkali berguna bagi orang tua yang redaksi sarikan
dari buku Penanggulangan Terpadu Penyalahgunaan Narkoba Berbasis Masyarakat di
DKI Jakarta:

Berusahalah tenang. Kendalikan emosi, marah, tersinmggung atau rasa bersalah
tidak ada gunanya.

Jangan tunda masalah. Hadapilah kenyataan itu. Adakan dialog terbuka dengan anak
dengan sikap tenang. Kemukakan apa yang Anda ketahui, tidak dengan cara menuduh.
Jangan pada saat ia masih berada dalam pengaruh Narkoba.

Dengarkan anak & beri dorongan nonverbal kepadanya. Dialog dengan anak merupakan
kunci pemecahan masalah. Jangan rendahkan harga dirinya. Buatlah agar ia merasa
aman & nyaman berbicara dengan Anda.

Jika ia mau mengakui hal itu, hargailah kejujurannya. Anda pun perlu bersyukur
karena dapat menciptakan keterbukaan itu.

Jujur terhadap diri sendiri. Beri contoh sikap jujur & terbuka. Mau mengakui
kelemahan & kesalahan sendiri. Jangan membela diri atau merasa diri benar.

Saling memaafkan untuk kesalahan sikap, kata-kata atau perbuatan di masa lalu
yang menyakitkan orang lain.

Jika perlu minta bantuan pihak ketiga , jika sulit mengendalikan emosi, minta
bantuan pihak ketiga yang dapat melakukan pendekatan yang lebih baik.

Tingkatkan hubungan dalam keluarga teliti hubungan dengan anak/anggota keluarga
lain. Selesaikan conflict pribadi yang ada. Rencanakan recreation dengan anak
atau anggota kelurga lain.

Bangun kehidupan berdiscipline, untuk menjauhkan anak dari lingkungan di mana
Narkoba digunakan.

Cari Pertolongan tenaga professional, pusat pengobatan atau rehabilitation.
Dengan atau tanpa seizin anak, berkonsultasilah kepada tenaga ahli.

Pendekatan kepada orangtua teman anak pemakai Narkoba, kunjungi orang tua teman
anak Anda yang menggunakan Narkoba pada waktu yang tepat. Ungkapkan apa yang
Anda ketahui dengan hati-hati & bijaksana. Ajaklah bekerja sama menghadapi
masalah itu.

Lalu bagaimana caranya agar orangtua dapat mencegah penyalahgunaan Narkoba di
rumah? Berikut Tipsnya:


1. Menjadi teladan atau role model dalam budaya anti-Narkoba, anti kekerasan &
discipline diri:
Orangtua yang juga menyalahgunakan narkoba tidak memiliki wibawa terhadap
anaknya untuk juga tidak menggunakannya.
Perlihatkan kemampuan orangtua untuk berkata tidak & untuk meminta tolong jika
perlu.
Tidak menggunakan cara kekerasan (tindakan & kata-kata) terhadap anak & orang
lain. Hormati hak-hak asasi anak & orang lain. Perlakukan anak atau orang lain
dengan adil & bijaksana.
Hidup secara tertib & teratur.

2. Membantu anak mengembangkan kemampuan menolak tekanan kelompok sebaya untuk
menggunakan Narkoba atau terlibat dalam kekerasan:
Beritahu anak mengenai haknya melakukan hak yang cocok bagi dirinya didasari
rasa tanggung jawab, sehingga jika ada teman yang memaksa atau membujuk, ia
berhak untuk menolaknya.
Bimbing anak mencari kawan sejati, yang tidak menjerumuskan dirinyaa dalam hal
yang merugikan atau merusak.
Ajarkan anak menolak tawaran penyalahgunaan Narkoba.
Mengetahui jadwal kegiatan anak & siapa kawan-kawannya.

3. Mendukung kegiatan anak yang sehat & creative:
Mendukung kegiatan anak di sekolah, berolahraga, memiliki hobby, bermain music,
& lain-lain tanpa menuntut anak agar berprestasi atau menang.
Orangtua melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan anak. Anak sangat menghargai
saat-saat orangtua melibatkan diri dalam kegiatan mereka.

4. Membuat kesepakatan bersama tentang norma & peraturan :
Anak ajar hidup yang teratur. Dorong anak belajar bertanggung jawab dengan
menetapkan aturan bagi perilaku atau kegiatannya sehari-hari. Termasuk tidak
menyalahgunakan Narkoba.
Tetapkan hal itu secara adil & tuliskan peraturan-peraturan itu.

Aborsi Di Kalanagan Remaja


Moral dan akhlak anak bangsa kini telah dipertaruhkan hanya demi kenikmatan seksual semata! Sebagian kondisi perilaku sex bebas atau sex menyimpang telah melanda dunia pendidikan dari tingkat SD – SMP -SMK/SMU hingga tingkat perguruan tinggi sekalipun! Hal ini dapat dibuktikan jika dari para pelaku mau jujur mengakui perilaku mereka!

Memang terlihat rapi dan nyaris tak terlihat walau oleh para orang tua mereka sekalipun! Akan tetapi, realita-nya banyak klinik/bidan/(oknum) melakukan kegiatan aborsi dari para klien dari seusia remaja hingga kalangan pejabat!

Burhan berpendapat: Apakah kegiatan Sex bebas hingga aborsi atau pembunuhan berlatar belakang sex semacam ini adalah wujud hasil studi mereka selama ini? Terus, dimanakah iman, akhlak mereka? Apakah kegiatan sex bebas sebebas-bebasnya seperti itu wujud cinta mereka akan hidup mereka? Bagaimana negara ini bisa menjadi negara yang maju dalam hal kondisi yang membanggakan?

Berulang kali Burhan mengatakan: Sejak tahun 2008 telah dimulai “pembersihan!” Ya sekarang terserah anda jika alam tidak berpihak pada kalian! Tunggu saja bencanamu!

Senin, 18 Mei 2009

Bahaya Penyalahgunaan Obat Dan Alkohol

Transisi dari dunia anak-anak ke masa dewasa bukan hal mudah. Sebagian remaja mampu memasuki dunianya dengan sukses, tetapi sebagian lainnya memilih coping (cara menghadapi tantangan yang ada) dengan mengonsumsi obat-obatan dan alkohol. Sebagian di antaranya meninggal dunia karena overdosis, dan lainnya berkembang menjadi remaja agresif dan berperilaku kriminal.

Bila sudah demikian, kita tidak berhak menyalahkan siapa pun. Yang penting adalah mengatasinya. Namun, bila belum telanjur, hal yang lebih penting adalah mencegah anak-anak kita agar terhindar dari jerat narkoba. Salah satu langkah yang baik adalah berempati terhadap kesulitan mereka. Bukan untuk membuat mereka lemah dan tetap tergantung, melainkan agar kita dapat menentukan pilihan perilaku yang tepat untuk menghindarkan atau melepaskan mereka dari jerat itu.

Bagaimana situasi yang dirasakan, bagaimana isi hati mereka, kita dapat belajar dengan menyimak puisi berikut ini, yang diciptakan oleh anak berusia 16 tahun yang akhirnya meninggal dunia karena overdosis.

Potret Buram Generasi Muda


Geng motor, akhir-akhir menjadi fenomena sosial yang menjadi perhatian, karena meresahkan masyarakat, terutama di Jawa Barat, daerah yang diketahui paling banyak memiliki komunitas pengendara motor brutal ini. Kehadiran geng motor melengkapi bentuk kenakalan remaja kita, setelah selama ini masyarakat sudah banyak dipusingkan aksi dalam bentuk lain, seperti tawuran antar pelajar, pembajakan angkutan umum, sampai hal-hal yang menjurus kriminal. Inilah potret buram generasi muda, yang digadang-gadang pemilik masa depan bangsa ini. Inilah Jejak Kasus.

Generasi muda brengsek. Ucapan itu sering kita dengar, meski tak selalu benar, tapi stigma buruk itu bukan tanpa dasar, setidaknya bagi mereka mereka yang melihat langsung aksi para remaja kita di jalanan, terutama dalam bentuk tawuran antar pelajar.

Banyak yang menuding, prilaku destruktif remaja ini erat kaitannya dengan model pendidikan saat ini, yang cenderung mengedepankan nilai akademik, ketimbang penanaman budi pekerti. Kegiatan ekstra kurikulerpun dianggap kurang menarik sehinga banyak siswa remaja yang lebih memilih menghabiskan waktu di luar, di mana mereka bertemu dengan situasi dan lingkungan yang tidak terkontrol dan mendukung perkembangan jiwa muda mereka.